Burung Pipit dan Tiga Kata Hikmah

Seorang hakim berkata, “Ada seorang lelaki yang memiliki sebuah kebun ia mengurusnya dan merawatnya dengan baik. Tiba-tiba, pada suatu hari dia melihat seekor burung pipit hinggap di salah satu pohon kebun tersebut dan menjatuhkan buahnya, lalu lelaki itu membuat perangkap untuk menangkapnya.

Ketika ia berkeinginan untuk menyembelihnya, Allah Swt membuat burung itu bisa berbicara dengan kehendak-Nya. Lalu burung itu berbicara kepada pemilik kebun tersebut, ‘Engkau ingin menyembelihku padahal diriku tidak bisa mengenyangkanmu dari lapar dan menguatkanmu dari lemah. Apakah engkau ingin memiliki sebuah kebaikan dari yang engkau harapkan?’

Lelaki itu bertanya, ‘Apa itu?’

Burung pipit itu menjawab, ‘Lepaskan aku dan aku akan mengajarimu tiga kalimat, jika engkau menghafalnya, ia akan menjadi sesuatu yang lebih baik untukmu daripada keluarga dan harta yang engkau miliki.’

Lelaki itu berkata, ‘Baiklah akan aku lakukan, maka katakanlah kepadaku tiga kalimat tersebut!’

Burung pipit itu berkata, ‘Ingat-ingat yang akan aku katakan kepadamu ini: Jangan putus asa atas apa yang engkau lewatkan, jangan benar-benar mempercayai apa yang tidak ada, dan jangan sekali-kali meminta apa yang tidak engkau sanggupi.’

Ketika burung itu selesai mengatakan tiga kalimat tersebut, sang pemilik kebun melepaskannya. Lalu ia terbang dan hinggap di sebagian pohon, dan berkata kepada lelaki itu, ‘Seandainya engkau tahu apa yang telah engkau lewatkan dariku. Ketahuilah bahwa engkau telah melewatkan hal yang sangat besar dariku.’

Lelaki itu bertanya, ‘Apa itu?’

Burung pipit itu menjawab, ‘Jika engkau memutuskan melakukan keinginanmu untuk menyembelihku, pasti akan keluar mutiara seperti telur angsa dari tembolokku, dan dengan itu engkau menjadi orang kaya pada masamu.’

Ketika lelaki itu mendengar apa yang dikatakan burung pipit tersebut, dirinya terbelenggu oleh penyesalan atas apa yang telah dia lewatkan, lalu ia berkata, ‘Lupakanlah yang sudah berlalu. Ayo ikut ke rumahku, maka aku akan melayanimu dengan baik dan memuliakan tempatmu.’

Maka, burung pipit itu berkata, ‘Hai orang bodoh, menurutku engkau tidak menjamin keselamatanku jika engkau mendapatkanku dan engkau tidak mengambil manfaat dari kata-kata yang aku harap engkau mengikutinya. Bukankah aku telah menjanjikan kepadamu agar engkau tidak berputus asa atas apa yang telah engkau lewatkan dan jangan mempercayai apa yang tidak ada, serta jangan meminta apa yang tidak akan engkau dapatkan. Namun, engkau mempercayai bahwa dalam tembolokku ada mutiara seperti telur angsa, padahal seluruh tubuhku lebih kecil dari telur angsa. Bukankah aku telah menjanjikan kepadamu agar tidak mempercayai apa yang tidak ada?’” 

Sumber:  Bihar al-Anwar.